Postingan

The Wonderfools: Bukti Kalau Jadi Superhero Gak Harus Keren!

Gambar
Tahun 1999. Tahun di mana dunia sedang HERO, HEboh ROmbongan perkara mau ganti milenium, ada yang bilang bakal kiamat lah, bug di komputer yang mengancam nyawa lah, end of the world lah, runtuhnya perekonomian dunia (ini mah tiap tahun ada aja isu begini. Apalagi kalau Anda WNI. Hufffet…), dan isu negatif lainnya. Semua orang panik. Meski gak terang-terangan. Seluruh dunia, termasuk orang-orang di sebuah kota kecil bernama Haeseong. Haeseong gak seperti kota-kota fiktif drakor umumnya. Kota ini, entah kenapa terkesan berantakan banget. Berantakan dan menyimpan misteri yang sedang menunggu untuk dikupas lapis per lapis.   The Wonderfools Beginning... Serial baru dengan judul The Wonderfools ( 더 원더풀스)  tayang di Netflix sejak tanggal 15 Mei 2026 kemarin. Posternya yang memasang wajah si pemeran utama wanita plus bentukannya yang Y2K banget berhasil bikin saya terpikat dan akhirnya serial itu berhasil saya tuntaskan dalam 3 hari! Yes, 3 hari, di rumah pas semua uda bobok, di kant...

Raibnya Pie Susu

Gambar
Jakarta, 6 April 2016 Maaf, saya sedang berkabung, berduka cita, terluka terlalu dalam. Soalnya, saya.. saya.. kehabisan pie susu oleh-oleh seorang teman kos.. *crying hardly. Dua kotak broo.. Dua kotaak!!! 18 biji ludes dalam semalam????? Ebuseeeetttt... Lalu saya main think hard, dari sejumput anak kos yang suka lalu nongkrong di depan tivi, siapakah yang menghabiskan pie paling banyak? *emot mikir. Semalam itu 2 kotak utuh terhidang di meja. Dimakan 2 biji oleh bukan saya, lalu saya masuk ke kamar, untuk bobo cantik. Saya kenyang akut berkat seporsi besar nasi goreng pete demi menambah tenaga buat ngelembur setim. Sungguhlah saya berharap, saya masih punya kesempatan untuk mendapatkan secuil pie nikmat tersebut. Dan... harapan itu musnah sudah. Hancur berkeping-keping... Dilalap ganasnya api... Lalu hilang ditiup angin... Kemudian saya terpaku di depan kulkas, meratapi pie yang tinggal kenangan dengan berurai air mata.. Ya, demikian versi berlebihannya. Tapi ...

Sebungkus Kacang dan Jagung Manis

Gambar
Jakarta, 5 April 2016 Rasa-rasanya cerita seperti ini sudah banyak bertebaran di dunia maya. Sudah awam untuk kita mengenai bagaimana orang-orang masih berusaha mencari sesuap nasi dengan cara yang adil. Di mata saya, mengemis itu curang. Karena apa? Karena (maaf) tidak ada usaha di sana. Tidak di mata saya. Sabtu, 26 Maret 2016. Saya bersama abang dan seorang teman menaiki bis Mayasari No 34 jurusan blok M-Poris Plawad. Ada hajatan yang membawa kami hingga ke Karawaci. Saya sudah menyiapkan recehan sebanyak mungkin, karena akan ada banyak yang ngamen. Sudah dipastikan dan divalidasi. Dan benar saja. Belum ada semenit bis berjalan, seorang pengamen sudah mulai memainkan gitar, menyanyikan lagu pertama. Bersamaan dengan itu, seorang pria paruh baya mulai berjalan menyusuri bis sambil membawa sebuah kantung plastik besar berisi jajan ringan. Dari penumpang terdepan ia mulai merogoh kantung yang dibawanya dan menaruh dagangannya di pangkuan penumpang, masing-masing satu bungk...

Sabtu Vigili 2016 di Karawaci

Gambar
Jakarta, Hari Minggu Paskah 27 Maret 2016. Holaaaaaaaa semuanyaaaaahhhhh.. Jumpaaaa lagiiiiii Ciiiii.. Luuuuuuuk... Baaaaaaaaa!!!! *lalu ditonyo sama Maisy yang udah jadi dokter. Selamat paskah semuanyaaaaaa.... Pagi ini, saya bangun dengan perasaan bahagia, bahagia, bahagia. Iyesss.. saya alay. Saya bahagia binggo lah pokok e. Mas Mbong, Mas Pildacil, UmBen Semalam saya habis tugas koor di Paroki Santa Helena Curug-Karawaci. Coba, iseng banget gak tuh misa malam Paskah jauh-jauh. Ini dalam rangka tugas negara sekaligus tugas keagamaan, eh kebalik, tugas keagamaan dan tugas negara, seperti Mars Santa Maria, "Mengabdi Gereja dan Pertiwi" , seperti Mars de Britto "Bagi Tuhan dan bangsamu" , seperti Mars Seminari Mertoyudan "Sedia akan karya bagi Gereja Bangsa" (ciyeeeee yang pacarnya alumnus Seminari Mertoyudan... susasuiit), dan seperti original soundtrack Tahun Kerahiman Keuskupan Agung Jakarta "Mengamalkan Pa...

"Vina?"

Gambar
Aku melirik jam di ponselku. Sudah jam 10 malam. Vina masih asyik membaca novelnya di tempat tidurku. Dia memang suka menumpang baca di kamarku. Menurutnya kamarku lebih sejuk dan suasananya cocok untuk membaca. “Vin,” panggilku. “Hm..?” Vina mengangkat wajahnya dari novel yang sedang dibacanya. “ Udah malem, loh, ” ujarku. Aku juga sudah lelah, aku mau tidur. “Maaf ya, An. Kelamaan di sini jadinya,” Vina mulai mengemasi novel-novel yang dibawanya. Wajahnya menunjukkan keengganan. Pelan-pelam dia bangkit, beranjak menuju pintu, lalu berbalik, “besok malam boleh ke sini lagi, An?” “Iya, boleh,” jawabku. “ Thank you. Malam, Ana,” Vina pamit dan segera menuju kamarnya yang berada persis di seberang kamarku. Vina adalah sepupuku. Ayahnya dan ibuku adalah kakak beradik. Orang tuaku meninggal 10 tahun yang lalu dalam kecelakaan pesawat. Saat itu aku tidak ikut karena mereka melakukan perjalanan bisnis. “Dua hari lahi Ayah sama Ibu udah di rumah lagi,” begitu kata Ibu ...

Polemik Check In

Jakarta, 23 Desember 2015 Terminal 1B, Bandara Soekarno Hatta Hari ini saya berangkat ke Padang, lanjut perjalanan darat selama 2 jam untuk bisa sampai di rumah. Abang-abang dan adek saya sudah duluan. Setahun yang lalu, di tanggal yang sama saya juga melakukan perjalanan serupa, tapi sama pacar. Kali ini, saya sendirian. Hiks... Dari kos ke bandara saya naik taksi sama bapak supir taksi langganan (cieileeeeh langganan naik taksiiiiiii... ke BPOM. Uhuk.). Si Bapak cerita kalau dulu beliau juga pernah jadi teknisi pesawat selama belasan tahun. Beliau bilang kalau memang waktu adalah prioritas. Jadi, idealnya, tidak ada alasan untuk menunda penerbangan, kecuali cuaca yang gak memungkinkan. Bahkan untuk ganti spare part, kata beliau sudah diorder dari sejak pesawat masih mengudara, soalnya anggarnya jauh bok. Itu kata beliau. Mungkin teman-teman di bagian penerbangan bisa konfirmasi. Ehehehehehe... Penerbangan saya masih nanti, tapi saya sudah check-in sejak jam 6. Pokoknya nunggu di ...

Tentang Ibu

Jakarta, Di pertengahan usia 20an... Hooooooo... Saya tuh selalu sebel sama topik yang "memaksa" kita untuk membagi kelompok ibu-ibu menjadi dua: ibu bekerja dan ibu rumah tangga. Ada banyak manusia nyinyir di luar sana yang mendewakan ibu rumah tangga dan memandang rendah ibu bekerja. Ada banyak manusia nyinyir juga yang memuja-muja ibu bekerja dan menghina ibu rumah tangga. Saya akan menulis tentang sosok yang saya kenal dengan baik; ibu bekerja. Saya bisa memberikan banyak sekali contoh konkret. Tapi cukup saya ambil salah satu contoh terdekat, Ibu saya. Ibu saya seorang guru. Masih aktif sampai sekarang, di usia beliau yang ke 52. Masih ligat, semangat, gesit, dan cekatan. Saya mah kalah pokoknya. Ibu saya adalah salah satu dari banyak ibu bekerja. Syukurrrlaaah ibu saya guru, jadi kami selalu berangkat dan pulang bersama. Hehehehe.. Kalau saya libur, ibu saya juga... hohohoho...  Ibu saya bekerja sebagai guru sejak muda, selepas lulus da...

'Kami' bukan 'Kita'

Terminal, hmmm... Ga ada terminal, tapi saya berada di Bandara Internasional Minangkabau, Padang. Holaaaa... Saya habis jadi anak manja(joki) di rumah selama 10 hari. Ingin kuteriakkaaaaaan... "LIBURANNYA KURAAAAAAAANG!!!" Hiks, apa daya, saya harus kembali macul di ibu tiri sebelum perut saya membulat sempurna. Jadi begini, Sebagai orang Indonesia, saya, Anda, kita semua, sudah selayaknya dan sepantasnya untuk tahu, bagaimana menggunakan kata ganti orang dalam percakapan kita semua sehari-hari. Masalahnya, tidak semua dari kita tahu mana kata ganti orang yang sesuai. Mungkin tahu, tapi kebiasaan dan pemakluman dari banyak pihak membuat penggunasalahan kata ganti ini ibarat jamur di musim hujan, tumbuh subuuuuurrrr... Judul tulisan saya kali ini adalah contoh nyata bagaimana penggunasalahan kata ganti itu sudah mengakar di kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya, di kota-kota besar. Halah, repot amat sih, saya contoh nyata di mana tanpa sadar saya ikut meramaikan kes...