The Wonderfools: Bukti Kalau Jadi Superhero Gak Harus Keren!

Gambar
Tahun 1999. Tahun di mana dunia sedang HERO, HEboh ROmbongan perkara mau ganti milenium, ada yang bilang bakal kiamat lah, bug di komputer yang mengancam nyawa lah, end of the world lah, runtuhnya perekonomian dunia (ini mah tiap tahun ada aja isu begini. Apalagi kalau Anda WNI. Hufffet…), dan isu negatif lainnya. Semua orang panik. Meski gak terang-terangan. Seluruh dunia, termasuk orang-orang di sebuah kota kecil bernama Haeseong. Haeseong gak seperti kota-kota fiktif drakor umumnya. Kota ini, entah kenapa terkesan berantakan banget. Berantakan dan menyimpan misteri yang sedang menunggu untuk dikupas lapis per lapis.   The Wonderfools Beginning... Serial baru dengan judul The Wonderfools ( 더 원더풀스)  tayang di Netflix sejak tanggal 15 Mei 2026 kemarin. Posternya yang memasang wajah si pemeran utama wanita plus bentukannya yang Y2K banget berhasil bikin saya terpikat dan akhirnya serial itu berhasil saya tuntaskan dalam 3 hari! Yes, 3 hari, di rumah pas semua uda bobok, di kant...

Diary Surabaya #1


Surabaya, 1 Februari 2013
Ini hari kedua di Surabaya. Yang saya temukan, bener-bener… Surabaya itu kota yang menarik. Di Surabaya orang-orang tetap menggunakan bahasa Jawa. Sama persis. Yang membedakan itu logatnya. Orang-orang Surabaya memasang “no” di bagian belakang kata perintah. Seperti, “lebokno”, “delokno”, dan kata-kata yang lain. Logatnya yang seolah “bernyanyi” menjadi daya tarik tersendiri. Apalagi tadi pas saya membolang, jalan-jalan gak jelas terus ngangkot, di dalam angkot, saya berjumpa dengan seorang ibu-ibu batak yang berbicara dalam bahasa Jawa-Surabaya. Wasis sekali bahasa jawanya, yang bikin lucu itu logatnya. Sudahlah logat bataknya masih sangat jelas, ditambah logat Surabaya yang setengah matang, lucu sekali… Saya senyam-senyum sendiri selama mendengarkan si ibu berbicara dengan semangat 45 ala ibu-ibu batak yang lain.
Abang saya yang sudah lama tinggal di Surabaya bilang, kalau mau membolang di Surabaya jangan jalan kaki. Lah? Membolang kan ya afdolnya jalan kaki ya… Tapi, begitulah fenomena di Surabaya, Jalan Kaki=Freak. Kok bisa? Soalnya Surabaya siang bolong panas banget brooooh… Bikin orang-orang males buat keluar dan jalan kaki. Pergi beli rokok misalnya, walaupun warung tempat beli rokoknya deket banget, mendingan naik motor deh. Pada takut item kali ya… Selain itu memang kalau dilihat-lihat, fasilitas buat pejalan kaki di Surabaya itu bisa dibilang agak minim. Trotoar rusak, zebra cross walaupun ada tapi seolah-olah tidak ada. Jadi, kalau mau menyeberang, pertama: lakukan di zebra cross, kedua: jangan ragu-ragu, terjang saja, seramai apapun, karena kalau enggak, ya gak bakalan nyebrang-nyebrang. Surabaya bukan kota untuk para pejalan kaki. Makanya, factory outlet atau distro begitu tidak berumur panjang. Orang-orang di sini lebih suka ke mall, yang adem, pilihannya banyak, dan gak perlu keluar masuk ruangan untuk melihat-lihat.
Saya pendatang, tujuan pertama saya waktu ke Surabaya adalah melihat monument Surabaya, itu loh.. patung ikan Sura dan Buaya yang lagi gelut. 
Ternyata tempatnya dekat banget sebenarnya dari tempat saya ngekos sekarang di daerah Wonokromo, 10-15 menit kalau naik angkot jurusan Joyoboyo. Jalan kaki juga bisa, tapi ya itu tadi, kembali ke alasan kalau Surabaya kurang cucok book buat jalan kaki. Mungkin kalau malam lain cerita ya, tapi ya saya kurang tahu juga, belom pernah lihat dunia malam di Surabaya.
Saya masih mau mengekspos Surabaya, sebelum bertolak ke daerah bermain lainnya seperti daerah Batu, Malang, mumpung masih lama banget di Surabaya kan ya… Saya dan teman-teman masih punya waktu 2 bulan full. Selain lihat mall yang kayaknya di Surabaya ini menjamur sekali, mungkin masih ada tempat lain yang sebenarnya oke untuk ditongkrongi dan dijadikin objek atau latar foto. Mariiiiiii…

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Lagu Untuk Sakramen Perkawinan

Wednesday: A Child That Full of Woe

Lupa UUD 45