The Wonderfools: Bukti Kalau Jadi Superhero Gak Harus Keren!

Gambar
Tahun 1999. Tahun di mana dunia sedang HERO, HEboh ROmbongan perkara mau ganti milenium, ada yang bilang bakal kiamat lah, bug di komputer yang mengancam nyawa lah, end of the world lah, runtuhnya perekonomian dunia (ini mah tiap tahun ada aja isu begini. Apalagi kalau Anda WNI. Hufffet…), dan isu negatif lainnya. Semua orang panik. Meski gak terang-terangan. Seluruh dunia, termasuk orang-orang di sebuah kota kecil bernama Haeseong. Haeseong gak seperti kota-kota fiktif drakor umumnya. Kota ini, entah kenapa terkesan berantakan banget. Berantakan dan menyimpan misteri yang sedang menunggu untuk dikupas lapis per lapis.   The Wonderfools Beginning... Serial baru dengan judul The Wonderfools ( 더 원더풀스)  tayang di Netflix sejak tanggal 15 Mei 2026 kemarin. Posternya yang memasang wajah si pemeran utama wanita plus bentukannya yang Y2K banget berhasil bikin saya terpikat dan akhirnya serial itu berhasil saya tuntaskan dalam 3 hari! Yes, 3 hari, di rumah pas semua uda bobok, di kant...

Dan Kersen Memaafkan Hujan...

Kersen bukan pohon biasa. Ia, tetap punya perasaan. Perasaannya, sekalipun ia menyangkal sedemikian rupa, tetap masih terluka bila mengingat bagaimana Hujan tak dapat menerima cintanya. Kersen berusaha melupakan, namun ia mendadak teringat kembali karena seorang gadis, yang menulis buku hariannya di bawah naungan dedaunanya tadi pagi.
Gadis itu cantik, rambutnya lurus sebahu dan dijepit rapi. Anak rambutnya bermain ditiup angin, namun tidak mengganggu pandangan dan kecantikannya yang sungguh alami. Gadis itu mendekap sebuah buku bersampul coklat yang cukup tebal. Agak lusuh, seolah sudah berulang kali dibuka-tutup oleh empunya.
Gadis itu mengenakn terusan putih, sepasang kaki mungilnya mengenakan sandal tali yang entah mengapa terlihat sangat anggun di kakinya. Ia berjalan pelan, sesekali melihat langit dan berusaha tersenyum tulus. Tak lama, ia sampai di depan batang kersen itu.
"Hai Kersen. Apa kabar? Aku datang lagi, boleh ya?"
Seolah mengerti dan ingin menjawab, Kersen mengayunkan dahannya yang paling rendah dengan lembut.
"Makasih," jawab si Gadis lalu tersenyum, sepasang lesung di pipinya yang mulus terlihat.
Gadis itu duduk di bawah, ia bersimpuh, menghela nafas sejenak, seolah menguatkan hati, kemudian membuka buku yang dibawanya. Sejenak, ia menatap lama pada halaman tertentu, keudian bahunya sedikit berguncang, ia menangis. Kersen yang merasa pilu, menggemerisikkan dedaunnya, ingin menghibur si Gadis. Gadis itu mengerti, membalikkan badannya dan mengelus dahan Kersen sejauh yang ia bisa capai, "Iya, terimakasih, ya." Ia lalu mengusap airmatanya. Ada jejak airmata yang mengering di wajahnya.
Gadis itu kemudian membalik halaman bukunya, mencari halaman yang masih kosong, lalu mulai menulis. Kersen membaca tiap kata yang gadis itu tuliskan dengan pilu, sungguh, bahkan Kersen ikut tersayat saat membacanya.

"Diaryku...
Aku masih tidak mengerti. Jujur, aku berusaha sangat keras untuk bisa melupakan apa yang ia lakukan. Tapi, sungguh, aku tidak mengerti. Mengapa? Aku salah apa? Mengapa harus aku..???"

Gadis itu memulai buku hariannya dengan penuh luka, tetes-tetes airmatanya memburamkan tulisan yang baru saja ia buat.

"Aku tahu, aku bukan gadis sempurna, tapi aku berusaha untuk menjadi seperti yang ia inginkan. Bahkan aku mengalahkan prinsipku sendiri, demi dia."

Kersen semakin penasaran, apa yang Gadis itu alami.

"Aku masih ingat, bagaimana ia menyatakan rasa cintanya padaku, seolah tidak ada orang lain di dunia ini, seolah aku adalah gadis terakhir di dunia ini, dan aku menerimanya.
Aku bahagia, Diary. Bahagia sekali. Ia lelaki yang tepat, untukku.
Tapi..."

Gadis itu menangis semakin kencang, bahunya bergetar semakin hebat.

"Tapi, aku tidak habis pikir... Dia tega mengkhianati kepercayaan yang aku berikan. Dia mengulanginya, bersama wanita itu... Dia... Mengulanginya... Aku bahkan tak pernah sanggup menuliskan apa yang sudah ia lakukan.. Aku merasa terhina. Aku merasa bodoh, Diary..."

Tulisan tangannya mulai berantakan. Airmatanya mulai berjatuhan. Namun ia tetap melanjutkan.

"Diary, aku tahu ini terlihat bodoh, tapi biarlah itu terjadi padaku, jangan ada gadis lain yang merasakannya juga. Izinkan aku menerima cintanya kembali, dengan tulus. Izinkan aku melupakan apapun yang pernah ia lakukan. Izinkan aku memaafkan mereka. Izinkan aku memberikan kesempatan padanya untuk kembali padaku. Izinkan aku mempunyai hati yang besar..."

Kali ini Gadis itu sudah menangis. Tangannya tetap menulis. Ia terluka. Kersen tahu betul itu. Gadis itu sedang mencoba menyembuhkan lukanya. Kersen menangis... Mengingat lukanya... Kersen menangis, untuk merelakan.. Kersen dan Gadis itu berusaha tetap tegar dan berusaha tidak melihat ke belakang. Kersen tahu, itu sangat sulit... Kali ini Kersen ikut menangis, untuk menyembuhkan luka hatinya, seperti yang Gadis itu tengah lakukan. Kersen tahu, memaafkan seharusnya menjadikannya pribadi yang lebih tangguh.

"Hujan, sekalipun aku terluka saat kau menolak cintaku, aku memaafkanmu, aku menerimamu, aku tetap mencintaimu..."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Lagu Untuk Sakramen Perkawinan

Wednesday: A Child That Full of Woe

Lupa UUD 45