Postingan

The Wonderfools: Bukti Kalau Jadi Superhero Gak Harus Keren!

Gambar
Tahun 1999. Tahun di mana dunia sedang HERO, HEboh ROmbongan perkara mau ganti milenium, ada yang bilang bakal kiamat lah, bug di komputer yang mengancam nyawa lah, end of the world lah, runtuhnya perekonomian dunia (ini mah tiap tahun ada aja isu begini. Apalagi kalau Anda WNI. Hufffet…), dan isu negatif lainnya. Semua orang panik. Meski gak terang-terangan. Seluruh dunia, termasuk orang-orang di sebuah kota kecil bernama Haeseong. Haeseong gak seperti kota-kota fiktif drakor umumnya. Kota ini, entah kenapa terkesan berantakan banget. Berantakan dan menyimpan misteri yang sedang menunggu untuk dikupas lapis per lapis.   The Wonderfools Beginning... Serial baru dengan judul The Wonderfools ( 더 원더풀스)  tayang di Netflix sejak tanggal 15 Mei 2026 kemarin. Posternya yang memasang wajah si pemeran utama wanita plus bentukannya yang Y2K banget berhasil bikin saya terpikat dan akhirnya serial itu berhasil saya tuntaskan dalam 3 hari! Yes, 3 hari, di rumah pas semua uda bobok, di kant...

Diary Surabaya 4#: "Pak, Saya Ini Calon Apoteker.."

Gambar
Surabaya, 14 Februari 2013 Di hari kasih sayang alias Valentine (Sial!!! Hari Valentine, malah jauh dari Mas Pacar) kemarin, saya dan teman-teman PKPA tetap masuk dan menjalankan tugas dan kewajiban seperti biasa, sesuai jadwal (ya iyalah... Maunya doang Valentine dijadikan hari libur Nasional..). Hari itu, kelompok saya mendapatkan jadwal praktik di bagian UDD atau Unit Dose Dispensing. Ada 3 paviliun yang akan kami masuki, paviliun C1, B1, dan 7B (paviliun syaraf). Dari 6 orang di kelompok, kami dibagi lagi ke dalam 3 kelompok kecil, masing-masing 2 orang untuk 1 paviliun. Jadilah, selain demi kemudahan dalam membuat laporan, kami sepakat membagi diri sesuai asal universitas (1 kelompok terdiri dari 6 orang yang berasal dari 3 universitas berbeda). Saya dan teman saya (sebut saja Stefi) mendapat praktik di paviliun 7B yang mana adalah paviliun untuk penyakit syaraf. Pekerjaan kami di tiap paviliun adalah, mencatat obat apa saja yang tersedia di sana, mengelompokkan obat-obat yang su...

Diary Surabaya #3 :Pentol (Jangan Salah Baca!!!)

Pentol, dengan e lemah seperti kalau ngomong ‘bedak’ adalah sejenis jajanan anak-anak (walaupun yang uda gede juga doyan), yang saya dan teman-teman temukan di depan sebiah SD di dekat kost-kostan. Buat saya pribadi, pentol bukan barang baru. Pertama kali saya tahu ada makanan bernama pentol ini tahun 2010, di pulau seberang, tepatnya di Palangkaraya. Abang-abang penjual pentol ini saya temukan sedang mangkal di bagian belakang Rumah Sakit Dr. Doris. Waktu itu, saya dan rombongan ke sana dalam rangka mau lomba. Kami menginap di kompleks yang biasa dipakai untuk diklat. Letaknya persis di belakang rumah sakit itu. Pentol di Palangkaraya (betulkan kalau saya salah ya) adalah bakso. Kalau bilang “Bang, beli pentol”, terus kalau abangnya nanya “Lengkap?” berarti itu beli semangkuk bakso, lengkap dengan mie, kuah, dan lain-lain. Kalau enggak lengkap, berarti ya pentolnya saja dengan saus plus kecap. Nah, kalau pentol yang saya temukan di Surabaya sini bisa milih, kalau bilang “Lengkap c...

Diary Surabaya #2; Training Warna-Warni

Gambar
5 Februari 2013 Hari Selasa di RS ini berarti ada jadwal senam pagi berjamaah. Aerobik lebih tepatnya. Ada instruktur kheses yang didatangkan untuk memimpin senam.Saya agak teringat suasana kurang lebih 5 tahun yang lalu. Saat saya kelas 3 SMA sekolah saya mencanangkan program senam pagi bersama, tapi tiap hari Senin. Instrukturnya juga dari sanggar aerobik. Jadi ya gerakannya agak-agak gimana gitu... Pergerakan bagian belly yang jujur... Saya agak geli untuk menirukannya. Tapi toh, kami (anak-anak PKL) tetap ikut senam pagi gembira ria bersama para angkatan laut di lapangan Rumah Sakit yang memang sungguh JEMBAAAAAAAAAAAAAAARRRRR...!!!!! Lalu, kaitannya dengan training warna-warni...? Ini dia... Sebelum berangkat PKL kami disarankan membawa training karena ada jadwal rutin senam bersama. Sehari sebelum senam, kami tanya tentang atasan untuk dipakai saat senam, kata si ibu, "Bebas, kaos aja". Pas hari H, JENG JENG!!! Pasukan kami datang dengan mengenakan kaos warna-warni d...

Dan Kersen Memaafkan Hujan...

Gambar
Kersen bukan pohon biasa. Ia, tetap punya perasaan. Perasaannya, sekalipun ia menyangkal sedemikian rupa, tetap masih terluka bila mengingat bagaimana Hujan tak dapat menerima cintanya. Kersen berusaha melupakan, namun ia mendadak teringat kembali karena seorang gadis, yang menulis buku hariannya di bawah naungan dedaunanya tadi pagi. Gadis itu cantik, rambutnya lurus sebahu dan dijepit rapi. Anak rambutnya bermain ditiup angin, namun tidak mengganggu pandangan dan kecantikannya yang sungguh alami. Gadis itu mendekap sebuah buku bersampul coklat yang cukup tebal. Agak lusuh, seolah sudah berulang kali dibuka-tutup oleh empunya. Gadis itu mengenakn terusan putih, sepasang kaki mungilnya mengenakan sandal tali yang entah mengapa terlihat sangat anggun di kakinya. Ia berjalan pelan, sesekali melihat langit dan berusaha tersenyum tulus. Tak lama, ia sampai di depan batang kersen itu. "Hai Kersen. Apa kabar? Aku datang lagi, boleh ya?" Seolah mengerti dan ingin menjawab, Ke...

Diary Surabaya #1

Gambar
Surabaya, 1 Februari 2013 Ini hari kedua di Surabaya. Yang saya temukan, bener-bener… Surabaya itu kota yang menarik. Di Surabaya orang-orang tetap menggunakan bahasa Jawa. Sama persis. Yang membedakan itu logatnya. Orang-orang Surabaya memasang “no” di bagian belakang kata perintah. Seperti, “lebokno”, “delokno”, dan kata-kata yang lain. Logatnya yang seolah “bernyanyi” menjadi daya tarik tersendiri. Apalagi tadi pas saya membolang, jalan-jalan gak jelas terus ngangkot, di dalam angkot, saya berjumpa dengan seorang ibu-ibu batak yang berbicara dalam bahasa Jawa-Surabaya. Wasis sekali bahasa jawanya, yang bikin lucu itu logatnya. Sudahlah logat bataknya masih sangat jelas, ditambah logat Surabaya yang setengah matang, lucu sekali… Saya senyam-senyum sendiri selama mendengarkan si ibu berbicara dengan semangat 45 ala ibu-ibu batak yang lain. Abang saya yang sudah lama tinggal di Surabaya bilang, kalau mau membolang di Surabaya jangan jalan kaki. Lah? Membolang kan ya afdolnya jala...

Namanya Galau

Zaman sudah berubah. Ditandai dengan kemajuan teknologi. Sekarang semua barang bisa touch screen. Hampir semuanya. Bahkan ada tipi yang bisa dikendalikan hanya dengan sensor pergerakan tangan. Bikin orang tambah malas aja. Selain itu sekrang apa-apa serba cepat, ringkas, tepat, dan orang-orang terkena sindrom yang umum, BB-ers, Behel-ers, Android-ers, DSLR-ers, tablet-ers, dan GALAU-ers. Apa yang menarik ya...? Ada lo. Lihat, zaman sekarang seluruh dunia gampang banget jadi galau. Kalo karena ga punya pacar, ga punya kerjaan, gak punya gebetan, terus galau, kayaknya masih wajar. Nah, sekarang apa-apa bisa mancing galau tuh. Ujan deresan dikit, galau. SMS gak dibalas pacar, galau. Gak punya duit buat beli makan, galau. Tugasnya banyak, galau. Iya kan? Ngaku deh. Kalo saya sadar betul, saya sudah kena sindrom ini sejak kata galau kembali mendunia. Menurut kamus bahasa Indonesia online, galau adalah pikiran yang kacau tidak karuan. Nah, kalo setiap saat orang update status galau, berart...

Belajar Menerima

Tadi pagi saya kuliah, ada presentasi. Bohong kalau saya bilang saya menyimak, karena buktinya saya malah menghabiskan waktu dengan baca komik. Tapi pas masuk sesi tanya jawab, saya menghentikan sejenak baca komik saya. Ada hal yang menarik, suasana yang memanas seperti biasa. Hahahaha... Beberapa mahasiswa sedang asyik membahas klausul penting dalam perundang-undangan. Namanya juga manusia, tulisan bisa sedikit salah paham, salah cara nangkep, mungkin bukan salah ya, agak beda cara penangkapan, sehingga satu klausul itu diulang-ulang, diputar-putar, bolak-balik, karena pemahaman yang berbeda. Semua saling menyerukan pendapat, menganggap pendapatnya paling benar, wajar lah, ego manusia. Siapa yang mau disalah-salahin, hayo... Pelajaran yang saya dapat adalah, betapa sulit manusia untuk menerima kesalahannya, kekalahannya, dan kekurangannya. Betapa sulit manusia mengakui keunggulan dan kelebihan orang lain. Sebenarnya kalau pendapat orang lain itu diresapi dulu, ditelaah, dianalisis, ...