The Wonderfools: Bukti Kalau Jadi Superhero Gak Harus Keren!

Gambar
Tahun 1999. Tahun di mana dunia sedang HERO, HEboh ROmbongan perkara mau ganti milenium, ada yang bilang bakal kiamat lah, bug di komputer yang mengancam nyawa lah, end of the world lah, runtuhnya perekonomian dunia (ini mah tiap tahun ada aja isu begini. Apalagi kalau Anda WNI. Hufffet…), dan isu negatif lainnya. Semua orang panik. Meski gak terang-terangan. Seluruh dunia, termasuk orang-orang di sebuah kota kecil bernama Haeseong. Haeseong gak seperti kota-kota fiktif drakor umumnya. Kota ini, entah kenapa terkesan berantakan banget. Berantakan dan menyimpan misteri yang sedang menunggu untuk dikupas lapis per lapis.   The Wonderfools Beginning... Serial baru dengan judul The Wonderfools ( 더 원더풀스)  tayang di Netflix sejak tanggal 15 Mei 2026 kemarin. Posternya yang memasang wajah si pemeran utama wanita plus bentukannya yang Y2K banget berhasil bikin saya terpikat dan akhirnya serial itu berhasil saya tuntaskan dalam 3 hari! Yes, 3 hari, di rumah pas semua uda bobok, di kant...

Hal-hal yang Saya Alami dengan Menjadi Ibu (Melalui Operasi Sesar)




Ha!
Seperti diketahui saya setahun ini sudah menjadi ibu beranak 1. Anak saya sedang di fase lucu-lucunya. Iya, lucu kalo udah GTM, atau lagi banyak tingkah lalu kejedut, jatuh, dan teman-temannya. Gegara GTM, BBnya naiknya gak drastis, gegara kejedut ada benjol kecil, gegara digigit nyamuk anak saya punya bekas luka yang ciamik. La gimana gak ciamik, wong kalau dia ngegaruk itu kayak gemes banget ampe lecet baru berenti. Padahal tadinya cuma bentol biasa. Lalu setelah itu siapa yang disalahkan duhai netizen yang budiman? Yak, benar sekali, saya yang disalahkan. "Gimana sih Mamanya? Kok anaknya kurus begitu?", "Gimana sih Mamanya? Anaknya digigitin nyamuk kok gak tahu?". Begitu kira-kira. Tapi enggak apa-apa. Itu gak seberapa dibandingkan kepedihan yang saya rasakan ketika saya gak boleh mendekat karena anak saya hampir tidur di gendongan yang sedang ngasuh. Kalau mendekat nanti bangun, alasannya.

Jadi saya tuh melahirkan anak saya secara sesar. Gela gela geka horangkayah! Bayar pake BPJS!!!! Gratis!!!!
Tapi walaupun begitu, tetap ada harga yang harus saya bayar setelahnya.
Widih, seriyes sekali ya sepertinya, cekidot!

1. Terbatas punya anak.
Ah, ini mah saya malah senang. Jadi kalau sudah pernah operasi sesar, akan ada keterbatasan kesempatan memiliki keturunan. Maksimal 4 orang kalau saya tidak salah. Ya enggak apa-apa. Malahane. Anak memang membawa rezekinya masing-masing, tapi menerapkan “Banyak anak banyak rezeki” di zaman sekarang, saya pribadi sih, mikir-mikir.

Feodor Vassilyef, melahirkan 69 anak selama hidupnya


2. Penyembuhan lebih lama
Kesannya memang melahirkannya mudah ya, 15 menit kelar, tinggal diem, perutnya dibelah, beres. Tapi etapi, luka bekas sesar itu suuuuaaakkiiitttt e gak keruan. Sembuhnya juga lebih lama dibandingkan penyembuhan luka melahirkan pervaginam. Dan kalau sedang kurang mujur, luka sesar bisa mengalami infeksi dan terbuka lagi. Wow! Bekas sayatannya juga berpotensi menjadi keloid yang kadang-kadang terasa amat sangat gatal. Bagian perut bekas sayatan pun terasa baal, mati rasa. Bye bye perut mulus.

Masih tergolong cakep ini mah


3. Susah pup
Bukan kenapa-kenapa sih. Saya waktu itu takut kalau saya ngeden, eeeee perut saya sobek lagi, lalu usus saya terburai kayak di filem-filem (eh, serem amat). Sebaiknya memang minta obat pelunak feses, jadi ga usah ngeden langsung plung plung plung. Kalau saya waktu itu, makan pepaya ukuran sedang (segede pepaya california) 1 buah! Langsung mules abis itu. Ya ngeden juga sih, tapi gak ampe keringetan lah.

4. Rasa gak terima
Jujur aja, saya sulit menerima kenyataan kalau saya terpaksa sesar. Apalagi selama kontrol di dua dokter berbeda, keduanya meyakinkan saya bahwa “Saya bisa banget melahirkan pervaginam”. Semua sehat, jalur lahir aman, apalagi pas dede bayi uda ngunci di panggul, gari wahing kasarane. Tapi ternyata tidak semudah itu, Ferguso. KPD atau Ketuban Pecah Dini membuat saya terpaksa dioperasi. 2 botol infus induksi kurang nampol buat membuka jalan lahir, sementara ketuban uda ngucuuuuur terus. Tinggal pilih, idealisme saya atau nyawa anak saya. Butuh waktu lama untuk menerima kenyataan bahwa saya melahirkan dengan operasi sesar. Sekalipun saya sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan itu, tetap saja sulit bagi saya untuk menerima kenyataan tersebut. 


Waktu itu.


Sekarang kalau lihat anak saya nggemesin begitu, pada akhirnya saya bisa legowo dan tentunya bersyukur anak saya lahir dengan selamat, sehat, lengkap, gak kurang suatu apa. Mo kata orang lewat jendela kek, bodo amat!

5. Judgment sekitar
“Malas ngeden” dan “Manja” adalah kata-kata yang siap saya dengarkan pasca operasi. Tapi saya untungnya gak mendengarkan itu. Yang sering saya dengar justru komparasi seperti “Untung saya dulu lahiran normal”.
Tapi gong-nya adalah “Belum melahirkan itu mah”, sebagai pernyataan yang rasa sakitnya ngalah-ngalahin rasa sakit bekas operasi. Dianggap belum menjadi ibu karena adek bayi keluar lewat “jendela” atau apapun istilahnya. Bisa menerima bahwa saya melahirkan secara sesar saja butuh waktu, dan ketika saya sudah bisa menerima kenyataan itu saya dihadapkan dengan anggapan kalau saya “belum melahirkan”? Lalu ini piyik keluar dari rahim saya apa namanya? Sulap????

Padahal menurut KBBI ya, melahirkan itu artinya: mengeluarkan anak (dari kandungan). Di situ gak dicantumkan caranya, mo pervaginam kek, mo sesar kek, pokoknya anak yang tadinya di kandungan keluar, itu namanya melahirkan. Setelah 9 bulan 10 hari, bayi akan lahir, apapun jalurnya. Dan peristiwa itu kita sebut MELAHIRKAN! 

Sekarang mah saya mencoba untuk bodo amat kalau ada yang ngomong begitu.
It's hard, but I'll try to do this

instead of this





Ya gimana ya, aku ki perasaane sensitif, Bro. Kayak permukaan pempes.



Dan ya… Kurang lebih demikian yang saya alami dan lalui setelah melahirkan buah hati saya. Sejatinya Ibu tetaplah ibu. Dia yakin dan percaya bahwa dia akan berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya.
Karena anak itu titipan Tuhan.


Duh, jadi mbrebes mili kaaaaaan....



Komentar