The Wonderfools: Bukti Kalau Jadi Superhero Gak Harus Keren!

Gambar
Tahun 1999. Tahun di mana dunia sedang HERO, HEboh ROmbongan perkara mau ganti milenium, ada yang bilang bakal kiamat lah, bug di komputer yang mengancam nyawa lah, end of the world lah, runtuhnya perekonomian dunia (ini mah tiap tahun ada aja isu begini. Apalagi kalau Anda WNI. Hufffet…), dan isu negatif lainnya. Semua orang panik. Meski gak terang-terangan. Seluruh dunia, termasuk orang-orang di sebuah kota kecil bernama Haeseong. Haeseong gak seperti kota-kota fiktif drakor umumnya. Kota ini, entah kenapa terkesan berantakan banget. Berantakan dan menyimpan misteri yang sedang menunggu untuk dikupas lapis per lapis.   The Wonderfools Beginning... Serial baru dengan judul The Wonderfools ( 더 원더풀스)  tayang di Netflix sejak tanggal 15 Mei 2026 kemarin. Posternya yang memasang wajah si pemeran utama wanita plus bentukannya yang Y2K banget berhasil bikin saya terpikat dan akhirnya serial itu berhasil saya tuntaskan dalam 3 hari! Yes, 3 hari, di rumah pas semua uda bobok, di kant...

"Sudah Isi Belom?"

Jakarta, Juli 2017

Setelah menuntaskan liburan Lebaran, kiranya handai taulan sudah cukup puas dan lebih semangat dalam menjemput rezeki, la iyo, dompetnya sudah kembali fitri? Saya mah belum, gajiannya sebelum liburan kemarin soalnya. Kalau sekarang ya kondisinya mirip remah-remah rengginang di kaleng Danisha, gitu (biar gak bosen Khong Guan melulu).

Saya mah cuma mau surhat.
Maaaah curhat dooong.

Setelah lulus pacaran selama 8 tahun, akhirnya saya diputuskan sama mantan saya itu. Untungnya sih diputusinnya di depan altar, di hadapan Pastor, orang tua, keluarga, dan teman-teman pulak. Dikasih cincin pulak. Ciye ciye. 8 tahun pacaran meeeen, dan akhirnya kami sudah sah menjadi suami istri. 

Ini nikah kok, nuansanya aja memang masih imlek

Happy ending dong ya. Ya kan? Ya kan? Ya kan? Well, buat saya, suami, keluarga, dan teman-teman dekat, kami akan bahagia selamanya, happily ever after. Amin. Ucapan selamat disertai kata-kata, "Akhirnya loh ya...", atau "Jadi juga nikah", atau yang rada western dikit, "Finally, nikah juga", menjadi semacam quote of the day untuk hari itu, terurtama saat unduh mantu, hoho.

Lantas, sudah selesai?
Ya belum lah! Enak aja! Kamu pikir siapa kamu ini?
*Zoom in
*Zoom out
*Zoom in
*Zoom out
*Ditambah mata berkedut ala Mamak Wisnu (hanya orang-orang tertentu yang paham frasa ini).

Sekiranya kami saat ini merasa sudah bahagia, ada orang-orang tertentu yang entahlah terlalu perhatian atau gimana yang kok ya selo banget untuk kepo. Begini, kami pacaran 8 tahun. 5 tahun bisa bertemu muka, 3 tahun via henpong! Hal tersebut karena saya bekerja di ibukota, sementara suami saya kembali ke tanah kelahiran untuk mulai berwirausaha. Jadi selama 3 tahun LDR, saya dan dia gantian berkunjung. Sekarang kami sudah menikah, dan kami masih LDR karena 1 dan lain hal.

Jadi, beberapa waktu kemarin, saya ada pekerjaan di luar kota, tepatnya di Semarang. 3 hari saya habiskan di sana, lantas Jumat malam setelah pekerjaan beres, saya langsung ke Solo, dijemput suami. Duuuh bahagianya bisa ketemu lagi tu tak bisa didefinisikan lah. Saya happy pokoknya.
Apa yang membuat saya sempat down adalah, ya orang-orang tertentu yang terlalu selo untuk kepo gitu. Minggu pagi, setelah misa, saya, suami, dan mertua makan timlo di warung timlo dekat gereja, bersama rombongan koor yang baru saja selesai bertugas (timlonya enak dek). Lalu ada seseibu yang tetiba memegang perut saya, sambil bertanya, "Udah isi?"
Yang saya jawab tanpa mikir, "Sudah, isi timlo, Bu."
Lalu disahut lagi, "Kalah nu mbe aku (kalah dong sama aku)."


Kalah nu mbe aku...

Kalah nu mbe aku...

Kalah

Kalah

Saya cuma tersenyum, getir, pahit, saya jadi lupa gimana rasa timlo yang baru saya makan.
Seperti suami saya bilang, saya ini cengeng akut, maka mungkin saja kalau tidak ada seseibu lainnya yang menenangkan saya dan bilang, "Mbak, dinikmati saja. Seneng-seneng lah Mbak," sambil nepuk pundak saya, mungkin saya sudah nangis dengan alasan kepedesan lombok! 

Begini ya buibu, pakbapak,
Betul, harapan terbesar kami setelah menikah adalah memiliki keturunan.
Tapi, saya dan suami gak menuntut harus bulan ini, harus bulan itu! Lah kami ini siapa? Kami ini manusia biasa yang cuma bisa berdoa dan berusaha. Hasil akhir ditentukan oleh Yang di Atas loh, bukan kami.
Lagipula ya, buibu pakbapak, ada faktor - faktor yang mempengaruhi supaya saya ini bisa "isi": ya kesehatan saya, kesehatan suami, tingkat kesuburan, tingkat stress, kualitas sel telur, kualitas sperma, frekuensi, aku ki LDM looooh.

Hamil kok ya dibuat balapan. Kemarin ditanyain kapan nikah, udah nikah ditanyain kapan isi, nanti udah lahiran ditanyai lagi, "Kapan dikasi adek?" gitu aja terus sampai Avatar diputar lagi dari awal di tipi (padahal yang punya lagi tersandung kasus, ouch). Mbok ya didoakan, supaya disegerakan. Saya masih berpikir positif, maksud tersirat seseibu itu baik, mungkin outputnya saja yang kurang menyenangkan.
Dan ini menjadi catatan saya juga. Kalau mau menanyakan hal itu ya, dipikir dulu, kira-kira penerimaan yang ditanya bagaimana?

Wis ah, sesok meneh le takon isi-isi. Aku ki dudu lemper (terinspirasi dari Phe, si Mamak Noah).


Saya bukan Cak Lontong,
Salam tumpeng.

Cicilia




Komentar

  1. hae mba. saya kira kita senasib ya. i know how you feel~

    saya menikah jalan 5 bulan. dan saya blum ada tanda-tanda hamidun. sudah banyak banget yang nanya. keluarga. bahkan sampai teman orang tua. yang paling ekstrim waktu saya datang kondangan, tiba2 teman datang dan nodong perut saya 'uda isi belum?'

    well........

    saya rasa desye blum tahu apa rasanya ditanya mulu.

    semangat ya mba. rejeki akan datang pada waktunya

    BalasHapus
  2. Halo juga Mbak.. Iyah, saya mah percaya kalau udah waktunya, pasti dikasih.. Yang penting usaha dan doa.. Hoho.. Saya mah gak apa apa kalau sekadar ditanyain, tapi sedih kalau "diajak balapan" itu. Hehehe

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Lagu Untuk Sakramen Perkawinan

The Wonderfools: Bukti Kalau Jadi Superhero Gak Harus Keren!

Wednesday: A Child That Full of Woe